Ma’had Al-Jami’ah Sukses Laksanakan Pelatihan Debat Bahasa Arab di Lingkungan Mahasantri/ah
(Padangsidimpuan) Dalam upaya meningkatkan kompetensi akademik dan kemampuan komunikasi bahasa Arab mahasantri/ah, Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada menyelenggarakan kegiatan Arabic Debate Training Forum pada Kamis, 28 Mei 2026 bertempat di Masjid Al-Musannif Ulul Ilmi UIN Syahada. Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai dan berlangsung dengan penuh antusiasme dari para peserta.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Husnatul Hamidiyah Siregar, M. Pd, Dosen Pascasarjana UIN Suska, sebagai mentor dan pemateri utama. Adapun pembukaan dan sambutan disampaikan oleh Ustadz Hasir yang menegaskan pentingnya penguasaan kemampuan berpikir kritis, komunikasi argumentatif, serta keberanian menyampaikan gagasan di ruang akademik, khususnya dalam bahasa Arab.

Forum pelatihan ini mengangkat tema “الأضحية بين المقاصد الشرعية والتحديات الاجتماعية المعاصرة” atau “Qurban antara Tujuan Syariat dan Tantangan Sosial Kontemporer.” Tema tersebut dipilih sebagai bentuk respons terhadap dinamika sosial modern yang menuntut mahasiswa tidak hanya memahami aspek normatif keagamaan, tetapi juga mampu menganalisis persoalan keislaman dari perspektif sosial, ekonomi, hukum, dan kemasyarakatan secara objektif dan argumentatif.
Dalam penyampaian materi, pemateri menjelaskan secara komprehensif sistem debat British Parliamentary (BP) yang digunakan dalam praktik munāẓarah bahasa Arab. Sistem ini merupakan format debat internasional yang menekankan kemampuan berpikir kritis, penyusunan argumen secara sistematis, kemampuan menyanggah lawan bicara, serta keterampilan komunikasi publik yang efektif.
Pemateri menjelaskan bahwa dalam sistem BP terdapat dua kelompok utama, yaitu tim pro (الموالاة) dan tim kontra (المعارضة), dengan masing-masing kelompok terdiri atas dua tim dan setiap tim memiliki dua pembicara. Struktur tersebut dirancang agar peserta mampu memahami dinamika debat secara lebih kompleks dan kompetitif.
Pada sesi penjelasan teknis, Dr. Husnatul Hamidiyah Siregar menguraikan tugas dan fungsi setiap pembicara dalam debat. Pembicara pertama dari tim pro bertugas mendefinisikan mosi sekaligus membangun kerangka argumentasi utama yang mendukung mosi. Selanjutnya, pembicara kedua bertugas memperkuat argumentasi sebelumnya, menyanggah argumen lawan, serta menghadirkan sudut pandang baru yang relevan.
Sementara itu, tim pro kedua diarahkan untuk menghadirkan pengembangan argumentasi yang lebih mendalam dan tidak mengulang poin yang telah disampaikan oleh tim sebelumnya. Adapun pembicara terakhir pada tim kontra bertugas memberikan ringkasan tematik dan analisis komprehensif terkait alasan mengapa pihak kontra lebih unggul dalam perdebatan, tanpa menghadirkan argumen baru.
Selain menjelaskan struktur debat, pemateri juga menekankan pentingnya manajemen waktu dalam penyampaian argumen. Setiap pembicara diberikan waktu selama tujuh menit untuk menyampaikan pendapat secara sistematis, efektif, dan persuasif. Dalam sistem debat BP, sesi interupsi diperbolehkan pada menit kedua hingga menit keenam. Interupsi dapat dilakukan oleh seluruh tim sebagai bentuk respons kritis terhadap argumen lawan. Kemampuan menjawab interupsi secara tepat dinilai sebagai salah satu indikator penting dalam penilaian debat.
Salah satu poin penting yang disampaikan dalam pelatihan ini adalah etika penggunaan dalil keagamaan dalam debat. Pemateri menegaskan bahwa meskipun mosi yang diangkat berkaitan dengan Islam, peserta tidak diperbolehkan menjadikan ayat Al-Qur’an maupun hadis sebagai objek perdebatan. Oleh karena itu, peserta diarahkan untuk membangun argumentasi melalui pendekatan ilmiah dan multidisipliner, seperti perspektif sosial, ekonomi, hukum, budaya, dan realitas masyarakat kontemporer.

Lebih lanjut, pemateri menekankan bahwa kualitas debat yang baik sangat dipengaruhi oleh keluasan wawasan peserta. Seorang pendebat dituntut untuk aktif membaca literatur, mengikuti perkembangan berita, memahami isu-isu aktual, serta mampu menghadirkan data ilmiah dan sumber yang kredibel sebagai penguat argumentasi. Selain substansi argumen, aspek penyampaian seperti ketegasan berbicara, intonasi, kepercayaan diri, dan kemampuan retorika juga menjadi bagian penting dalam penilaian debat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi debat (munāẓarah simulation) guna memberikan pengalaman praktik secara langsung kepada peserta. Dalam simulasi tersebut, peserta berlatih menyusun argumen, menyampaikan sanggahan, melakukan interupsi, serta mempertahankan posisi tim sesuai dengan mekanisme debat British Parliamentary. Simulasi berlangsung aktif dan interaktif, menunjukkan tingginya minat serta semangat belajar mahasantri/ah dalam mengembangkan kemampuan debat bahasa Arab.
Selain simulasi, kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab yang melibatkan mahasantri dan mahasantriah. Berbagai pertanyaan diajukan terkait strategi membangun argumen, teknik menghadapi tekanan dalam debat. Diskusi berlangsung dinamis dan memberikan wawasan baru bagi seluruh peserta.
Secara keseluruhan, kegiatan Arabic Debate Training Forum ini menjadi wadah pengembangan intelektual yang tidak hanya melatih keterampilan berbicara bahasa Arab, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, analitis, dan ilmiah di kalangan mahasantri/ah. Diharapkan melalui kegiatan ini, peserta mampu meningkatkan kapasitas akademik dan kesiapan mereka dalam mengikuti berbagai forum debat, diskusi ilmiah, maupun kompetisi bahasa Arab di tingkat regional maupun nasional.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk komitmen Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada dalam menciptakan lingkungan akademik yang aktif, progresif, dan berorientasi pada pengembangan kualitas sumber daya mahasiswa yang unggul dalam bidang keilmuan, komunikasi, dan pemikiran kritis.
– GALERI KEGIATAN –





















