Pembinaan Karakter Mahasantri Kembali Digelar Sebagai Kegiatan Rutin Mingguan
Pembinaan ini dibuka dan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 36 oleh perwakilan salah seorang mahasantri, yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.“
Berpatokan pada ayat tersebut, Buya Hamsir memberikan pemaparan mendalam mengenai perintah dan larangan Allah SWT. Dalam kesempatan ini, buya menggarisbawahi dua poin pertama: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua“
1.) “Wa‘budullaha wa la tusyriku bihi syai’a. (Sembahlah ALLAH dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun)“. Melanjutkan yang telah disampaikan oleh buya pada dua minggu yang lalu, bahwa pekerjaan apapun yang dilakukan yang bersumber pada perintah Allah. dan Rasul-Nya adalah ibadah, dan seluruh yang bernilai ibadah mendapatkan pahala. Maka, untuk menjaga nilai-nilai ibadah yang kita kerjakan, itu memiliki pantangan atau larangan yang harus dihindari, yaitu mempersekutukan ALLAH SWT., yang juga disebut dengan syirik.
Syirik sejatinya adalah keyakinan. Keyakinan yang dimaksud ialah, misalnya ketika terdapat seorang makhluk yang meyakini bahwasanya ada makhluk selain ALLAH yang memiliki sifat yang sama dengan ALLAH, maka itu sudah disebut syirik.
Buya menyebutkan bahwasanya ALLAH SWT. itu mengetahui kehidupan yang ghaib dan yang nyata. Akan tetapi sebagai contoh: jika ada makhluk yang meyakini dan mempercayai ada makhluk selain ALLAH yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, itu juga sudah tergolong kedalam perbuatan syirik.
Buya melanjutkan, ada syirik dalam hal ibadah. Setiap sesuatu perbuatan kalau itu dipersembahkan kepada selain ALLAH itu juga disebut dengan syirik. Misalnya ada seseorang yang berdo’a maupun meminta kepada siapapun selain ALLAH, maka itu termasuk ke dalam perbuatan syirik dalam hal ibadah. Contohnya: Tawakkal (Berserah diri kepada ALLAH) dalam meraih manfaat atau menolak mudharat. Tawakkal itu merupakan satu bentuk penerapan do’a, dan do’a salah satu penerapan nya yaitu tawakkal.

Diberikan contoh oleh buya, bagaimana jika ada seseorang yang hendak berjualan, harapan nya sudah pasti mendapatkan kelancaran dan keuntungan, dan yang ditakutin ialah ketika tidak mendapat keuntungan bahkan terjadinya kerugian. Apabila seorang manusia dalam harapan nya itu dipanjatkan kepada ALLAH SWT. dan penolakan atas mudharat itu dimohonkan kepada ALLAH SWT. maka itu sudah termasuk kedalam kategori penerapan do’a melalui tawakkal (berserah diri) yang hanya ditujukan kepada ALLAH SWT.
Tapi, ketika seseorang hendak berjualan, lalu orang tersebut melipat kertas yang berisi bacaan² seperti jimat, dsb. Maka sesungguhnya dia juga sudah bertawakal dan berdo’a, akan tetapi kepada sesuatu selain daripada ALLAH SWT., maka ia sudah masuk kedalam kategori syirik.
2.) Perintah ALLAH SWT. selanjutnya ialah “Wa ahsinu bil walidaini (dan berbuat baiklah kamu kepada kedua orang tua)” Perintah ALLAH selanjutnya ialah berbuat baik kepadaku kedua orang tua kita. Berbuat baik kepada kedua orang tua sesungguhnya itu tidak memandang agama, muslim tidak muslim nya ia maka kehidupan nya akan dimudahkan, akan dilancarkan hidup nya.
Sementara, Meskipun seseorang itu muslim, apabila ia sudah durhaka kepada kedua orang tua nya, maka hidup nya akan sulit untuk mendapatkan kelancaran dan kebahagiaan dalam hidup. Sebegitu pentingnya berbuat baik kepada orang tua. Kenapa diperintahkan ALLAH untuk berbuat baik kepada kedua orang tua terutama seorang ibu, karena memiliki beberapa alasan, diantaranya yaitu:
- Mengandung selama 9 bulan dengan penuh kesulitan.
- Bertaruh nyawa saat melahirkan.
- Hingga menyayangi dan menyusui sang anak dengan segala kesulitan nya.
Begitu besarnya jasa orang tua, hingga Allah SWT melarang keras anak membentak atau sekadar mengucapkan kata “Ah” kepada mereka, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Isra’ ayat 23. “Apabila sampai salah satu diantara kedua atau kedua-dua nya sampai diusia lanjut, maka jangan lah kamu mengatakan “ah” kepadanya dan janganlah kamu membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.“
Sebagai motivasi dan keteladanan bagi para mahasantri, Buya Hamsir mengisahkan pemuda asal Yaman bernama Uwais Al Qarni yang sangat mencintai ibunya. Menggendong ibu nya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namanya memang tidak dikenal oleh penghuni dunia, tapi dikenal oleh penghuni langit. Sampai akhirnya Rasullulah berpesan kepada Umar Ibn Khattab Ra. dan Ali Ibn Abi Thalib Ra. untuk meminta kan do’a apabila bertemu dengan nya.
Sebagai penutup, buya mengingatkan kepada kita untuk senantiasa beribadah kepada ALLAH dan jangan menyekutukan-Nya dan tetaplah berbuat baik kepada kedua orang tua dan jangan durhaka kepadanya, sebab “Ridha ALLAH ada pada Ridha nya kedua orang tua, dan murka ALLAH ada pada murka nya kedua orang tua”.