Ma’had Gaungkan Semangat Santri Digital yang Berkarakter pada Seminar Hari Santri 2026

Padangsidimpuan — Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN Syahada) Padangsidimpuan menggelar Seminar Hari Santri Nasional 2026 dengan mengusung tema “Santri di Era Digital: Menjaga Nilai, Merawat Negeri”, Sabtu (24/10/2026), bertempat di Auditorium UIN Syahada Padangsidimpuan. Kegiatan ini diikuti seluruh mahasantri dan mahasantriah, serta dihadiri Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama, Dr. H. Ikhwanuddin Harahap, M.Ag.; Kepala UPT Ma’had Al-Jami’ah, Sylvia Kurnia Ritonga, M.Sy.; para Muwajjih/ah dan Musyrif/ah.

Seminar ini menjadi momentum refleksi bagi kalangan santri untuk memperkuat peran dan kontribusinya dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Di tengah kemudahan akses informasi dan luasnya ruang interaksi digital, santri dituntut tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai keislaman, menjunjung tinggi etika, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Seluruh audiens kegiatan Smeinar Hari Santri Nasional 2026 di Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Seminar menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Narasumber pertama, Dr. (Cand.) Siti Nurkholilah, M.Pd., kandidat doktor di salah satu universitas di California, Amerika Serikat, menyampaikan materi secara daring dari California. Sementara itu, narasumber kedua, H. Muhammad Arkan, Lc., M.A., hadir secara langsung untuk menyampaikan materi kepada peserta. Diskusi dipandu oleh moderator Imam Taufiq Aceh.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN Syahada Padangsidimpuan, Dr. H. Ikhwanuddin Harahap, M.Ag.; Kepala UPT. Ma’had Al-Jami’ah, Sylvia Kurnia Ritonga, M.Sy.; seluruh muwajjih dan muwajjihah; serta seluruh musyrif dan musyrifah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan doa. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala UPT. Ma’had Al-Jami’ah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars UIN Syahada, Yalal Wathan, dan Mars Hari Santri, serta sambutan sekaligus pembukaan resmi kegiatan oleh Wakil Rektor III yang mewakili Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan. Setelah itu, kegiatan memasuki sesi inti berupa pemaparan materi dan diskusi bersama kedua narasumber, sebelum ditutup dengan pengumuman pemenang lomba Hari Santri.

Dalam sambutannya, Kepala UPT Ma’had Al-Jami’ah, Sylvia Kurnia Ritonga, M.Sy., menegaskan bahwa Ma’had memiliki tanggung jawab penting dalam mendampingi mahasiswa agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi spiritualitasnya.

“Ma’had bukan hanya tempat untuk memperoleh pembinaan keagamaan, tetapi juga ruang untuk menempa diri, membangun kedisiplinan, dan menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa. Di era digital ini, mahasantri harus mampu mengikuti perkembangan zaman dengan tetap menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman. Kecakapan teknologi perlu diimbangi dengan akhlak, kebijaksanaan, dan kemampuan memilah informasi agar kehadiran kita di ruang digital membawa manfaat, bukan justru menimbulkan mudarat,” ungkapnya.

Sambutan oleh Kepala UPT. Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada Padangsidimpuan, Ustadzah Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M. Sy.

Ia berharap peringatan Hari Santri Nasional tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi dorongan bagi seluruh mahasantri dan mahasantriah untuk terus memperbaiki diri, mengembangkan potensi, serta menjadikan ilmu dan akhlak sebagai bekal dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama, Dr. H. Ikhwanuddin Harahap, M.Ag., dalam sambutannya menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi santri yang memiliki daya saing, wawasan luas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, perguruan tinggi Islam memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial.

“Era digital membuka peluang yang luas bagi mahasiswa untuk mengakses pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan memperluas kontribusi di tengah masyarakat. Namun, kemajuan tersebut harus disertai dengan kecerdasan dalam menyaring informasi, kedewasaan dalam berinteraksi, serta tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi. Santri harus mampu menjadi bagian dari kemajuan zaman tanpa tercerabut dari nilai-nilai keislaman dan semangat kebangsaan yang menjadi jati dirinya,” tuturnya.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama, Dr. H. Ikhwanuddin Harahap, M. Ag. sedang memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi acara tersebut.

Ia juga menekankan bahwa kemampuan beradaptasi dengan teknologi perlu diiringi dengan penguatan literasi digital dan etika akademik. Dengan demikian, mahasantri diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri, memperluas wawasan, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Setelah Wakil Rektor III membuka acara secara resmi, maka kegiatan langsung dialihkan kepada moderator kegiatan ini, yaitu Imam Taufiq Aceh, yang memperkenalkan seluruh narasumber dengan membacakan CV para narasumber, lalu masuk pada sesi narasumber pertama.

Pada sesi pertama, Dr. (Cand.) Siti Nurkholilah, M.Pd., menyampaikan materi secara daring dari California, Amerika Serikat. Ia mengajak para mahasantri/ah untuk memahami kembali esensi keberadaan Ma’had Al-Jami’ah, terutama dalam menjawab keraguan mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren atau tidak berasal dari program studi keagamaan.

Menurut materi yang disampaikan, Ma’had tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat tinggal atau asrama, tetapi merupakan ruang pembelajaran dan pembentukan diri. Proses pembinaan di Ma’had diarahkan untuk membantu mahasiswa mengembangkan potensi secara menyeluruh sehingga mampu menjadi pribadi yang matang secara intelektual, spiritual, dan sosial.

Lebih lanjut, Ma’had Al-Jami’ah dipandang memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara tradisi keilmuan Islam dan tuntutan kehidupan modern. Di satu sisi, Ma’had berperan menjaga warisan intelektual para ulama dan nilai-nilai luhur pesantren. Di sisi lain, lingkungan pembinaan ini perlu mendorong mahasiswa agar mampu merespons perkembangan sains, teknologi, dan tantangan global tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Foto bersama narasumber Ibu Siti Nurkholilah, M.Pd. dengan seluruh peseta diambil dari screenshoot admin daring.

Dalam pemaparannya, ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara orientasi dunia dan akhirat, penguasaan life skills, serta pembentukan mental yang tangguh. Ketiga aspek tersebut menjadi bekal penting bagi alumni Ma’had agar tidak hanya memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi juga mampu beradaptasi, menghadapi kesulitan, dan mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain menjelaskan peran Ma’had dalam pembentukan karakter, Siti Nurkholilah memberikan sejumlah arahan praktis bagi mahasantri yang ingin merancang masa depan akademik, termasuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Ia menekankan pentingnya menjaga ketertiban ibadah, membangun kebiasaan belajar yang konsisten, serta menempatkan setiap proses sebagai bagian dari ikhtiar meraih keberhasilan. Bagi mahasiswa yang bercita-cita mengikuti program beasiswa atau menembus perguruan tinggi internasional, ia memperkenalkan strategi CAKEP, yaitu:

  • C — Catat deadline, mencatat batas waktu pendaftaran dan tahapan seleksi.
  • A — Amati persyaratan, mempelajari seluruh ketentuan program dengan teliti.
  • K — Kenali potensi diri, mengidentifikasi kemampuan dan bidang yang ingin dikembangkan.
  • E — Evaluasi persiapan, menilai hal-hal yang masih perlu ditingkatkan.
  • P — Proses, menjalani setiap tahapan persiapan secara konsisten karena proses merupakan bagian penting dari keberhasilan.

Strategi tersebut menggarisbawahi bahwa cita-cita akademik memerlukan perencanaan yang matang, pengenalan terhadap potensi diri, serta kesungguhan dalam memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Kemampuan bahasa asing, misalnya, perlu dikembangkan melalui latihan dan persiapan nyata, bukan sekadar menjadi kekhawatiran yang menghambat langkah.

Pesan utama yang ditekankan dalam materi ini adalah bahwa mahasantri memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan meraih pendidikan yang lebih tinggi selama berani menentukan tujuan, mengenali potensi, serta konsisten menjalani prosesnya.

Pada sesi kedua, H. Muhammad Arkan, Lc., M.A., menyampaikan materi secara langsung mengenai masa depan pendidikan pesantren, khususnya pentingnya menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kematangan spiritual dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Ia menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan perlu disertai fondasi spiritual yang kokoh melalui penguatan iman, ihsan, tazkiyatun nafs, dan akhlak. Dengan demikian, ilmu yang dimiliki tidak hanya menjadi sarana pengembangan kemampuan pribadi, tetapi juga diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dalam perspektif pendidikan pesantren, spiritualitas bukan sekadar pelengkap proses pembelajaran, melainkan landasan moral yang membimbing seseorang dalam menggunakan ilmu, mengambil keputusan, dan menjalankan tanggung jawab. Kejujuran, keikhlasan, amanah, dan kepedulian terhadap sesama menjadi nilai yang perlu terus ditanamkan seiring dengan peningkatan kompetensi akademik.

Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan ketika pendidikan memasuki era digital, saat teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, pencarian informasi, pengembangan literasi kitab kuning, dan kegiatan dakwah.

Dalam pemaparannya, Muhammad Arkan menjelaskan bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat bagi pendidikan pesantren apabila digunakan secara bijaksana dan berlandaskan etika. Teknologi tersebut tidak seharusnya menggantikan kemampuan berpikir mandiri, proses verifikasi keilmuan, ataupun bimbingan guru dan ulama.

Narasumber pada sesi kedua (offline), H. Muhammad Arkan, Lc., M.A. sedang menyampaikan materi dengan penuh semangat

Ia menguraikan lima prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam penggunaan AI di lingkungan pendidikan.

Pertama, verifikasi. Informasi yang dihasilkan AI perlu diperiksa kembali melalui sumber yang otoritatif, seperti Al-Qur’an, hadis, kitab kuning, dan referensi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini penting terutama ketika teknologi digunakan untuk memahami persoalan keagamaan.

Kedua, transparansi. Pengguna perlu bersikap jujur mengenai pemanfaatan AI dalam proses akademik, sesuai dengan ketentuan dan etika yang berlaku.

Ketiga, amanah. Penggunaan teknologi harus tetap menjaga integritas akademik, kejujuran, serta tanggung jawab terhadap karya dan hasil pembelajaran.

Keempat, privasi. Mahasantri perlu berhati-hati dalam memasukkan atau membagikan informasi pribadi dan data sensitif melalui platform digital.

Kelima, kendali manusia. AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar kritis, pertimbangan moral, maupun bimbingan guru dan ulama.

Kelima prinsip tersebut menegaskan bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan literasi digital dan kematangan karakter. Kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup; mahasiswa juga perlu memahami batasan, risiko, serta tanggung jawab yang menyertainya.

Menurut materi yang disampaikan, masa depan pendidikan pesantren terletak pada kemampuan memadukan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan teknologi. Dengan pendekatan tersebut, santri diharapkan mampu mengikuti kemajuan zaman sekaligus mempertahankan integritas keilmuan, kedalaman spiritual, dan akhlak dalam setiap tindakan.

Pemberian sertifikat kepada Narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan berbagi ilmu dan pengalaman

Seminar Hari Santri Nasional Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada Padangsidimpuan Tahun 2026 menjadi ruang refleksi mengenai arah pembinaan santri dan mahasantri di tengah perkembangan ilmu pengetahuan serta transformasi digital. Kedua narasumber menyoroti aspek yang saling melengkapi: pentingnya membangun cita-cita, merancang masa depan, dan mengembangkan potensi diri, sekaligus memastikan bahwa kemajuan intelektual dan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual dan etika.

Melalui kegiatan ini, mahasantri dan mahasantriah diajak untuk melihat Ma’had sebagai lingkungan pembinaan yang mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan akademik, profesional, dan sosial secara lebih matang. Tradisi keilmuan pesantren tetap menjadi fondasi, sementara keterampilan hidup, penguasaan bahasa asing, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis menjadi bekal untuk menghadapi tantangan masa depan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba Hari Santri sebagai bagian dari apresiasi terhadap partisipasi dan semangat kompetisi mahasantri. Kegiatan ditutup setelah seluruh agenda selesai dilaksanakan.

Melalui seminar ini, Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada Padangsidimpuan meneguhkan pentingnya pendidikan yang menyatukan ilmu, iman, dan karakter. Harapannya, mahasantri mampu tumbuh menjadi generasi yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, bijak memanfaatkan teknologi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, serta peradaban.