Kajian Fikih Ibadah Mahasantriah Ma’had Al-Jami’ah Bahas Pentingnya Pemahaman Mandi Wajib
Dalam upaya memperkuat pemahaman keislaman dan pembinaan ibadah bagi mahasantriah, Ma’had Al-Jami’ah menggelar kegiatan Kajian Fikih Ibadah khusus bagi mahasantriah pada Sabtu, 16 Mei 2026, bertempat di Kuttab mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan pemateri, Masdingin Harahap, yang menyampaikan materi tentang mandi wajib sebagai bagian penting dari pembahasan thaharah dalam Islam.
Dalam pemaparannya, Ustazah menjelaskan bahwa mandi wajib merupakan salah satu bentuk bersuci untuk menghilangkan hadas besar yang menjadi syarat sah beberapa ibadah, khususnya shalat. Oleh karena itu, pemahaman mengenai tata cara mandi wajib menjadi hal yang sangat penting dimiliki oleh setiap muslim agar ibadah yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Beliau menerangkan bahwa mandi wajib adalah mandi yang dilakukan menggunakan air suci dengan tata cara tertentu sesuai tuntunan syariat. Mandi wajib tidak hanya dipahami sebagai upaya membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT serta sarana menjaga kesucian lahir dan batin.
Pada kesempatan tersebut, dijelaskan pula beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang diwajibkan mandi wajib, di antaranya setelah mengalami junub, selesai haid, nifas, keluar mani, serta setelah berhubungan suami istri (berjima’). Penjelasan ini diberikan agar para mahasantriah memahami dengan baik kapan seseorang diwajibkan bersuci sebelum melaksanakan ibadah.
Selain membahas pengertian dan sebab-sebab mandi wajib, pemateri juga menguraikan rukun dan tata cara mandi wajib yang benar. Tahapan yang dijelaskan meliputi niat mandi wajib dalam hati, membersihkan najis atau kotoran pada tubuh, berwudhu sebagaimana wudhu sebelum shalat, kemudian mengguyur kepala sebanyak tiga kali hingga air merata sampai ke akar rambut, serta mengguyur seluruh tubuh dimulai dari bagian kanan kemudian kiri hingga seluruh anggota tubuh terkena air.
Ustazah menekankan pentingnya memastikan seluruh bagian tubuh terkena air, termasuk sela-sela jari, lipatan tubuh, dan bagian tubuh yang tersembunyi. Ketelitian dalam mandi wajib menjadi perhatian penting karena apabila terdapat bagian tubuh yang tidak terkena air, maka mandi wajib dinilai tidak sah.
Tidak hanya membahas aspek hukum dan tata cara, kajian ini juga mengangkat hikmah dan manfaat mandi wajib. Dari sisi spiritual, mandi wajib menjadikan seseorang kembali suci sehingga dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan khusyuk. Sementara dari sisi kesehatan, mandi wajib membantu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Hal tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang sangat menekankan pentingnya kebersihan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bentuk penguatan pemahaman materi, beberapa mahasantriah perwakilan dari setiap asrama diminta maju ke depan untuk membacakan niat-niat mandi wajib yang telah dipelajari. Kegiatan ini berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Pemateri turut membimbing serta memperbaiki bacaan yang masih kurang tepat sehingga para peserta dapat memahami dan menghafal niat mandi wajib dengan lebih baik.
Kegiatan pembinaan berlangsung dalam suasana aktif dan komunikatif. Para mahasantriah juga diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait hal-hal yang belum dipahami mengenai mandi wajib. Melalui kajian ini, diharapkan para peserta mampu meningkatkan pemahaman fikih ibadah serta semakin menyadari pentingnya menjaga kesucian diri sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
– GALERI FOTO KEGIATAN –




