Padangsidimpuan — Pemilu serentak yang melibatkan pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) menjadi momentum penting bagi seluruh masyarakat Indonesia. Namun, beberapa mahasantri dan mahasantriah Ma’had Al Jami’ah UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan memutuskan untuk tetap tinggal di Ma’had pada hari pelaksanaan pemilu, mengingat domisili mereka berada di luar kota, bahkan di luar provinsi.
Keputusan ini diambil oleh mahasantri/ah dengan pertimbangan logistik dan efisiensi. Banyak dari mereka berasal dari wilayah yang cukup jauh, seperti Sumatera Utara bagian timur, Riau, hingga Pulau Jawa, sehingga perjalanan pulang untuk memberikan suara dianggap tidak memungkinkan dalam waktu singkat. Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan, mengingat biaya transportasi yang cukup tinggi.
Menurut penjelasan salah satu mahasantri, keputusan ini bukan berarti mereka tidak peduli terhadap hak pilih mereka. “Kami sangat ingin berpartisipasi dalam pemilu, tetapi jarak yang jauh dan keterbatasan waktu membuat kami sulit untuk pulang. Kami berharap pemerintah ke depannya dapat menyediakan fasilitas seperti tempat pemungutan suara khusus bagi mahasiswa perantauan,” ujar salah satu mahasantri asal Riau.
Pihak Ma’had sendiri memahami situasi ini. Ustadz Muhlison, M. Ag salah satu Kepala UPT. Ma’had Al-Jami’ah, menyampaikan bahwa Ma’had tetap menyediakan aktivitas harian bagi mahasantri/ah yang tidak pulang. “Kami mendukung penuh hak demokrasi mereka. Namun, untuk yang tidak memungkinkan pulang, kami tetap mengisi waktu mereka dengan kegiatan positif di Ma’had,” ujarnya.
Di tengah situasi ini, para mahasantri/ah yang tetap tinggal di Ma’had merasa bersyukur karena masih bisa berkontribusi melalui doa dan diskusi produktif seputar isu-isu kebangsaan. Mereka berharap bahwa ke depan, ada solusi yang lebih inklusif untuk memfasilitasi hak pilih bagi warga negara yang tinggal jauh dari domisilinya.


Tinggalkan Balasan