Pembinaan Fiqih Ibadah : Rukun Salat dan Pengendalian Hawa Nafsu

Padangsidimpuan, 31 Oktober 2026 – UPT Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (UIN Syahada) Padangsidimpuan kembali melaksanakan kegiatan pembinaan karakter bagi mahasantri dan mahasantriah pada Sabtu (31/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kuttab mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai ini mengangkat tema “Rukun Salat dan Hawa Nafsu” yang diisi oleh Ustaz Alwi Fadli Trimala Tanjung, M. Pd. sebagai pemateri.

Dalam kegiatan tersebut, pemateri menyampaikan dua pokok pembahasan utama, yaitu pemahaman mengenai rukun salat serta pentingnya mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan seorang Muslim. Kedua materi ini memiliki keterkaitan erat dalam membentuk pribadi yang taat beribadah, memiliki ketenangan jiwa, dan berakhlak mulia.

1. Memahami Rukun Salat sebagai Dasar Kesempurnaan Ibadah

Dalam pembahasan pertama, Ustaz Alwi Fadli Trimala Tanjung menjelaskan bahwa rukun salat merupakan segala sesuatu yang wajib dilaksanakan dalam salat dan menjadi bagian utama yang menentukan sah atau tidaknya ibadah tersebut. Rukun salat mencakup bacaan maupun gerakan yang harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Apabila salah satu rukun salat ditinggalkan, maka salat tidak sah dan harus diperbaiki sesuai ketentuan fikih.

Salat merupakan ibadah yang memiliki kedudukan sangat penting dalam agama Islam. Selain sebagai bentuk penghambaan manusia kepada Allah Swt., salat juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami rukun salat agar dapat melaksanakan ibadah dengan benar, tertib, dan khusyuk.

Menurut mazhab Syafi’i, rukun salat terdiri atas 13 perkara, yaitu:

1. Niat

Niat merupakan maksud atau keinginan dalam hati untuk melaksanakan salat karena Allah Swt. Niat menjadi dasar setiap ibadah. Dalam melaksanakan salat, seseorang harus mengetahui jenis salat yang akan dikerjakan, seperti salat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.

2. Berdiri bagi yang Mampu

Berdiri merupakan rukun salat fardu bagi orang yang mampu melaksanakannya. Apabila seseorang mengalami sakit atau tidak mampu berdiri, maka diperbolehkan melaksanakan salat dengan duduk. Jika tidak mampu duduk, salat dapat dilaksanakan dengan berbaring sesuai kemampuan.

3. Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram adalah mengucapkan kalimat Allahu Akbar pada awal salat. Takbir ini menjadi tanda dimulainya ibadah salat. Setelah mengucapkan takbiratul ihram, seseorang harus menjaga diri dari segala hal yang dapat membatalkan salat.

4. Membaca Surah Al-Fatihah

Membaca Surah Al-Fatihah merupakan rukun salat yang wajib dilaksanakan pada setiap rakaat. Surah Al-Fatihah mengandung pujian kepada Allah Swt., pengakuan terhadap kekuasaan-Nya, serta permohonan agar diberikan petunjuk menuju jalan yang benar.

5. Rukuk dengan Tuma’ninah

Rukuk merupakan gerakan membungkukkan badan dengan kedua tangan memegang lutut. Ketika melakukan rukuk, seseorang harus melaksanakannya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Ketenangan dalam setiap gerakan salat disebut tuma’ninah.

6. I’tidal dengan Tuma’ninah

I’tidal merupakan gerakan bangkit dari rukuk hingga kembali berdiri tegak. Gerakan ini harus dilakukan dengan tenang dan sempurna sebelum melanjutkan ke gerakan sujud.

7. Sujud Dua Kali dengan Tuma’ninah

Sujud adalah gerakan meletakkan dahi bersama sebagian hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari kedua kaki di tempat sujud. Sujud dilakukan sebanyak dua kali dalam setiap rakaat dan harus disertai tuma’ninah.

8. Duduk di antara Dua Sujud dengan Tuma’ninah

Duduk di antara dua sujud dilakukan setelah sujud pertama dan sebelum sujud kedua. Gerakan ini harus dilaksanakan dengan tenang serta disertai bacaan doa di antara dua sujud.

9. Duduk Tasyahud Akhir

Duduk tasyahud akhir merupakan posisi duduk pada akhir salat sebelum mengucapkan salam. Pada posisi ini, seseorang membaca bacaan tasyahud akhir dan selawat kepada Nabi Muhammad saw.

10. Membaca Tasyahud Akhir

Membaca tasyahud akhir merupakan rukun salat yang wajib dilaksanakan. Bacaan tersebut berisi penghormatan kepada Allah Swt., pengakuan terhadap keesaan Allah, serta kesaksian bahwa Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah.

11. Membaca Selawat kepada Nabi Muhammad saw.

Membaca selawat kepada Nabi Muhammad saw. pada tasyahud akhir merupakan salah satu rukun salat menurut mazhab Syafi’i. Selawat ini merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan umat Islam kepada Rasulullah.

12. Mengucapkan Salam Pertama

Salam pertama merupakan rukun yang menandai berakhirnya salat. Salam dilakukan dengan mengucapkan Assalamu’alaikum warahmatullah sambil menoleh ke arah kanan.

13. Tertib

Tertib berarti melaksanakan seluruh rukun salat secara berurutan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Seluruh gerakan dan bacaan harus dilakukan sesuai susunannya, mulai dari niat hingga salam.

Melalui pembahasan tersebut, mahasantri dan mahasantriah diingatkan bahwa melaksanakan salat tidak cukup hanya dengan mengikuti gerakan dan membaca bacaan, tetapi juga harus memahami ketentuan setiap rukunnya. Salat yang dilaksanakan dengan benar dan khusyuk diharapkan dapat menumbuhkan kedisiplinan, kesabaran, kebersihan, serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

2. Mengenal dan Mengendalikan Hawa Nafsu

Pada pembahasan kedua, pemateri menguraikan tentang hawa nafsu sebagai dorongan atau keinginan yang terdapat dalam diri manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Keinginan tersebut dapat berupa harta, makanan, kekuasaan, kesenangan, maupun berbagai hal lainnya.

Hawa nafsu pada dasarnya merupakan bagian dari sifat manusia. Namun, apabila tidak dikendalikan dengan baik, hawa nafsu dapat mendorong seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti berbohong, mencuri, berbuat zalim, melakukan kemaksiatan, serta mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan hak orang lain.

Dalam kajian akhlak dan tasawuf, terdapat tiga keadaan jiwa yang berkaitan dengan hawa nafsu, yaitu:

1. Nafsu Ammarah

Nafsu ammarah merupakan keadaan jiwa yang cenderung mendorong manusia melakukan keburukan dan mengikuti keinginan tanpa mempertimbangkan akibat dari perbuatannya.

Seseorang yang dikuasai nafsu ammarah biasanya lebih mengutamakan kesenangan pribadi dibandingkan aturan agama. Contohnya adalah mudah marah, iri hati, dengki, sombong, berbohong, serta melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt.

2. Nafsu Lawwamah

Nafsu lawwamah merupakan keadaan jiwa yang masih melakukan kesalahan, tetapi memiliki kesadaran untuk menyesali perbuatannya. Seseorang yang berada dalam keadaan ini biasanya mengalami pertentangan antara keinginan melakukan keburukan dan dorongan untuk melakukan kebaikan.

Contohnya adalah seseorang yang melakukan kesalahan kemudian merasa bersalah, menyesali perbuatannya, dan berusaha memperbaiki diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

3. Nafsu Muthmainnah

Nafsu muthmainnah merupakan keadaan jiwa yang tenang, tenteram, dan memiliki kedekatan dengan Allah Swt. Jiwa yang tenang selalu berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Contohnya adalah selalu berusaha melaksanakan salat tepat waktu, bersabar ketika menghadapi masalah, bersyukur atas nikmat Allah, ikhlas dalam beribadah, serta berusaha menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Dampak Negatif Mengikuti Hawa Nafsu

Pemateri juga menjelaskan bahwa mengikuti hawa nafsu secara berlebihan dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupan manusia, baik dalam hubungan dengan Allah Swt. maupun hubungan dengan sesama manusia. Beberapa dampak negatif tersebut antara lain:

  1. Mendorong seseorang melakukan dosa. Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat membuat seseorang melakukan perbuatan yang dilarang agama.
  2. Menimbulkan sifat sombong dan serakah. Keinginan yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki.
  3. Merusak hubungan sosial. Hawa nafsu dapat menyebabkan pertengkaran, permusuhan, iri hati, dan kebencian terhadap orang lain.
  4. Menjauhkan diri dari Allah Swt. Seseorang yang terlalu mengikuti hawa nafsu dapat melupakan kewajiban beribadah dan kurang memperhatikan aturan agama.
  5. Menghilangkan ketenangan hati. Keinginan yang selalu dituruti tidak menjamin seseorang memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman hidup.

Cara Mengendalikan Hawa Nafsu

Untuk menghindari berbagai dampak negatif tersebut, Islam mengajarkan beberapa cara dalam mengendalikan hawa nafsu, di antaranya:

  1. Memperkuat keimanan. Keimanan yang kuat membantu seseorang membedakan perbuatan baik dan buruk serta menyadari bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
  2. Menjaga salat. Melaksanakan salat dengan baik dan khusyuk dapat membantu seseorang mengendalikan perilaku serta menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
  3. Memperbanyak membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam. Dengan membaca, memahami, dan mengamalkan isinya, seseorang dapat memperoleh petunjuk dalam menjalani kehidupan.
  4. Memperbanyak zikir dan istigfar. Zikir dan istigfar membantu manusia mengingat Allah Swt., menenangkan hati, serta menyadari kesalahan yang telah dilakukan.
  5. Melaksanakan puasa. Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang melatih kesabaran dan kemampuan menahan diri, termasuk mengendalikan keinginan dan emosi.
  6. Menjaga pergaulan. Memilih lingkungan pergaulan yang baik sangat penting dalam membentuk kepribadian. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki akhlak baik dapat memberikan pengaruh positif.
  7. Melakukan introspeksi diri. Introspeksi merupakan kegiatan mengevaluasi perbuatan yang telah dilakukan agar seseorang dapat mengetahui kekurangan dan kesalahannya serta berusaha memperbaiki diri.

3. Hubungan Salat dengan Pengendalian Hawa Nafsu

Sebagai penutup pembahasan, pemateri menjelaskan bahwa salat dan pengendalian hawa nafsu memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan umat Islam. Salat bukan hanya kewajiban yang dilaksanakan lima kali sehari, tetapi juga merupakan sarana untuk mendidik jiwa, membentuk kedisiplinan, dan memperbaiki akhlak manusia.

Hal tersebut sebagaimana dijelaskan Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Ankabut ayat 45, bahwa sesungguhnya salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ayat ini menunjukkan bahwa salat memiliki peranan penting dalam membentuk perilaku manusia agar senantiasa berada dalam kebaikan.

Seseorang yang melaksanakan salat dengan sungguh-sungguh diharapkan mampu menjaga perkataan, perbuatan, dan perilakunya. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang menjaga salat akan terbiasa disiplin terhadap waktu, sedangkan orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu akan lebih mudah menjaga kesabaran, kejujuran, dan tanggung jawab.

Oleh karena itu, umat Islam hendaknya tidak hanya memperhatikan pelaksanaan salat secara lahiriah, tetapi juga berusaha menerapkan nilai-nilai salat dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan dan Tujuan Pembinaan

Para peserta mnyimak materi pembinaan fiqih ibadah dengan seksama dan mencatat poin-poin materi sebagai bahan pelajaran

Melalui kegiatan pembinaan karakter ini, mahasantri dan mahasantriah diharapkan tidak hanya memahami tata cara dan rukun salat secara teoritis, tetapi juga mampu mengamalkannya dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pemahaman mengenai hawa nafsu diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa mengendalikan diri, memperbaiki akhlak, serta menjauhi segala bentuk perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen UPT Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada Padangsidimpuan dalam memperkuat pembinaan keagamaan dan pembentukan karakter mahasantri dan mahasantriah, sehingga tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki pemahaman keislaman, kedisiplinan, dan akhlak yang baik.