(SEBUAH RENUNGAN DI AWAL MUHARRAM 1448 H) KETIKA YANG RAPUH BUKAN TUBUH, TETAPI JIWA
Awal Muharram 1448 H seharusnya menjadi momentum yang menenangkan. Bulan pertama dalam kalender Hijriyah ini selalu identik dengan hijrah, refleksi diri, memperbaiki niat, dan menyusun kembali langkah-langkah kehidupan yang mungkin selama setahun terakhir berjalan tidak sesuai harapan. Banyak orang menyambut Muharram dengan doa-doa terbaiknya, membuat target-target baru, memperbanyak ibadah, dan berharap Allah membuka lembaran kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun, Muharram tahun ini menghadirkan renungan yang jauh lebih dalam daripada sekadar target dan resolusi. Ia datang dengan peristiwa-peristiwa yang membuat hati terdiam, pikiran merenung, dan jiwa bertanya-tanya: sebenarnya sedang apa yang terjadi dengan generasi muda kita hari ini?
Dalam rentang waktu yang sangat berdekatan, civitas akademika kampus UIN SYAHADA Padangsidimpuan dibuat gempar oleh dua peristiwa yang nyaris merenggut nyawa. Dua mahasiswi yang masih berada pada usia produktif, usia yang seharusnya dipenuhi mimpi, semangat belajar, cita-cita, dan harapan akan masa depan, justru berada pada titik di mana kehidupan terasa begitu berat untuk dijalani. Alhamdulillah, Allah masih melindungi mereka. Allah masih mengirimkan pertolongan-Nya melalui orang-orang yang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Nyawa mereka terselamatkan. Mereka masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup, memperbaiki keadaan, menyembuhkan luka, dan menemukan kembali alasan untuk bertahan.
Namun, di balik rasa syukur karena mereka selamat, tersimpan kegelisahan yang jauh lebih besar. Mengapa begitu banyak anak muda hari ini yang tampak kuat dari luar, tetapi sesungguhnya sangat rapuh di dalam? Mengapa mereka yang terlihat biasa-biasa saja dalam keseharian ternyata menyimpan beban yang begitu berat hingga memandang kematian sebagai jalan keluar? Mengapa kehidupan yang Allah anugerahkan dengan begitu mahal dan penuh perjuangan sejak dalam kandungan dapat terasa begitu ringan untuk dilepaskan hanya karena satu masalah, satu tekanan, satu hubungan yang gagal, atau satu fase kehidupan yang sedang tidak berjalan sesuai keinginan?
Mungkin salah satu jawabannya adalah karena kita sedang hidup pada zaman yang sangat berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Kita hidup pada zaman ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kematangan emosional manusia. Kita bisa berbicara dengan siapa saja di berbagai belahan dunia dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mampu berbicara jujur kepada orang-orang yang tinggal satu rumah dengan kita. Kita bisa mengetahui aktivitas seseorang setiap hari melalui media sosial, tetapi belum tentu benar-benar mengenalnya. Kita bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pengikut, tetapi tetap merasa kesepian ketika malam tiba. Kita bisa terlihat bahagia dalam unggahan, tetapi menangis diam-diam setelah layar ponsel dimatikan.
Fenomena hubungan virtual yang semakin marak menjadi salah satu gambaran nyata tentang perubahan zaman tersebut. Tidak sedikit anak-anak muda yang membangun hubungan emosional sangat dalam dengan seseorang yang bahkan belum pernah mereka temui secara langsung. Mereka berbagi cerita setiap hari, saling menghubungi hampir tanpa jeda, saling mengetahui aktivitas masing-masing, dan perlahan menjadikan orang lain sebagai pusat kehidupan mereka. Ketika hubungan itu sehat, mungkin tidak terlalu bermasalah. Namun ketika hubungan tersebut berubah menjadi hubungan yang toksik, penuh penguasaan, ancaman, manipulasi, dan tekanan psikologis, maka dampaknya bisa jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak anak muda belum mampu membedakan antara cinta dan kontrol. Mereka mengira posesif adalah bentuk perhatian. Mereka mengira kecemburuan berlebihan adalah bukti kasih sayang. Mereka mengira larangan bergaul dengan teman-teman adalah bentuk perlindungan. Mereka mengira pengawasan terhadap seluruh aktivitas pribadi adalah bentuk kepedulian. Padahal cinta yang sehat tidak pernah menghilangkan kebebasan seseorang untuk menjadi dirinya sendiri. Cinta yang sehat tidak membuat seseorang hidup dalam ketakutan. Cinta yang sehat tidak membuat seseorang kehilangan ruang bernapas. Ketika seseorang mulai mengendalikan seluruh aspek kehidupan orang lain, itu bukan lagi cinta, melainkan bentuk penguasaan yang berbahaya.
Di sisi lain, kita juga harus jujur mengakui bahwa tidak semua luka berasal dari luar. Ada luka-luka yang tumbuh perlahan di dalam rumah, di lingkungan keluarga, di ruang-ruang yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada anak-anak yang tumbuh dengan tekanan yang tidak pernah mereka ceritakan. Ada yang setiap hari hidup dalam ketakutan melakukan kesalahan. Ada yang merasa dirinya tidak pernah cukup baik di mata orang tua. Ada yang terus-menerus dibandingkan dengan orang lain. Ada yang tidak pernah benar-benar didengarkan. Ada yang hanya diminta berprestasi, tetapi tidak pernah ditanya apakah mereka bahagia. Ada yang selalu diberi nasihat, tetapi jarang diberi ruang untuk bercerita.
Padahal manusia tidak hanya membutuhkan makanan untuk tubuhnya. Jiwa juga membutuhkan perhatian. Hati juga membutuhkan tempat untuk beristirahat. Pikiran juga membutuhkan ruang untuk bernapas. Ketika kebutuhan-kebutuhan itu tidak terpenuhi dalam waktu yang lama, seseorang bisa tetap berjalan, tetap kuliah, tetap tersenyum, tetap bercanda, tetapi sesungguhnya sedang mengalami kelelahan yang luar biasa. Dan sering kali, orang-orang di sekitarnya tidak menyadarinya sama sekali.
Beberapa waktu lalu, kita juga pernah menyaksikan peristiwa lain yang tak kalah menyedihkan. Seorang mahasiswa yang terjerat judi online, terlilit hutang, kehilangan kepercayaan keluarga, dan tidak lagi mampu melihat jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Dalam keputusasaan yang memuncak, ia memilih tindakan yang hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkannya. Namun peristiwa itu kembali memperlihatkan kepada kita betapa tipis batas antara masalah hidup dan keputusan-keputusan fatal ketika seseorang kehilangan harapan.
Yang menarik untuk direnungkan adalah bahwa masalah-masalah tersebut sesungguhnya berbeda-beda. Ada yang berawal dari hubungan yang tidak sehat. Ada yang dipicu tekanan keluarga. Ada yang berakar pada kesalahan pribadi. Ada yang terkait masalah ekonomi. Ada yang berkaitan dengan lingkungan sosial. Namun semuanya bermuara pada satu titik yang sama, yaitu hilangnya harapan dan melemahnya ketahanan jiwa.
Padahal jika kita melihat kehidupan para nabi, para ulama, dan orang-orang saleh terdahulu, hampir tidak ada seorang pun yang hidup tanpa ujian. Nabi Yusuf pernah dipisahkan dari ayahnya dan dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya sendiri. Nabi Ayyub kehilangan kesehatan, harta, dan keluarganya dalam waktu yang panjang. Nabi Yunus pernah berada dalam kegelapan perut ikan di tengah lautan. Rasulullah ﷺ kehilangan ayah sebelum lahir, kehilangan ibu saat masih kecil, kehilangan kakek yang melindunginya, kehilangan paman yang dicintainya, bahkan kehilangan hampir seluruh anak-anaknya semasa hidup. Namun tidak satu pun dari mereka menjadikan ujian sebagai alasan untuk menyerah terhadap kehidupan.
Mereka mengajarkan kepada kita bahwa beratnya ujian tidak selalu menentukan kuat atau lemahnya seseorang. Yang menentukan adalah bagaimana ia memaknai ujian tersebut. Orang yang memiliki iman yang kuat akan melihat ujian sebagai proses pendewasaan. Orang yang memiliki harapan kepada Allah akan melihat kesulitan sebagai fase yang akan berlalu. Orang yang yakin kepada pertolongan Allah akan memahami bahwa tidak ada malam yang berlangsung selamanya.
Karena itu, mungkin salah satu pelajaran terbesar Muharram tahun ini adalah bahwa kita perlu lebih serius membangun ketahanan mental dan spiritual generasi muda. Kita terlalu sering berbicara tentang prestasi, tetapi jarang berbicara tentang kesehatan jiwa. Kita terlalu sering menanyakan nilai, tetapi jarang menanyakan perasaan. Kita terlalu sering menuntut keberhasilan, tetapi jarang mengajarkan cara menghadapi kegagalan. Kita terlalu sibuk mempersiapkan masa depan anak-anak kita, tetapi kadang lupa memastikan bahwa mereka masih memiliki semangat untuk menjalani hari ini.
Dan bagi para anak muda, ketahuilah bahwa tidak ada masalah yang layak ditukar dengan nyawa. Tidak ada hubungan yang layak membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Tidak ada hutang, nilai kuliah, konflik keluarga, atau tekanan sosial yang pantas dijadikan alasan untuk mengakhiri kehidupan yang Allah titipkan. Apa yang hari ini terasa seperti akhir dunia, beberapa tahun lagi mungkin hanya akan menjadi satu bab kecil dalam perjalanan hidupmu. Bertahanlah. Carilah pertolongan. Menangislah jika perlu. Berceritalah jika mampu. Datanglah kepada sahabat, guru, orang tua, konselor, atau siapa pun yang dapat dipercaya. Jangan berjuang sendirian ketika beban terasa terlalu berat.
Muharram adalah bulan hijrah. Dan mungkin hijrah yang paling dibutuhkan sebagian dari kita hari ini bukanlah berpindah tempat, melainkan berpindah cara pandang. Hijrah dari keputusasaan menuju harapan. Dari kesendirian menuju kebersamaan. Dari ketergantungan kepada manusia menuju ketergantungan kepada Allah. Dari keyakinan bahwa hidup telah berakhir menuju keyakinan bahwa Allah masih menyiapkan banyak kebaikan yang belum terlihat oleh mata kita.
Semoga Allah menjaga anak-anak muda kita. Semoga Allah melindungi mereka dari keputusan-keputusan yang lahir dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Semoga Allah mempertemukan mereka dengan lingkungan yang sehat, keluarga yang hangat, sahabat yang tulus, dan guru-guru yang peduli. Dan semoga Muharram 1448 H menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menyelamatkan satu jiwa jauh lebih berharga daripada seribu pencapaian yang sering kita banggakan.
Karena pada akhirnya, kampus yang hebat bukan hanya kampus yang menghasilkan lulusan cerdas. Keluarga yang berhasil bukan hanya keluarga yang melahirkan anak-anak berprestasi. Tetapi kampus dan keluarga yang berhasil adalah yang mampu menjaga anak-anaknya tetap hidup, tetap waras, tetap beriman, dan tetap memiliki harapan untuk menjalani hari esok.