Pembinaan dan Penguatan Nilai Teoantropoekosentris Pada Mahasantri/ah Ma’had Al-Jami’ah

Jumat, 15 Mei 2026 telah dilaksanakan kegiatan Pembinaan dan Penguatan Nilai Teoantropoekosentris bagi mahasantri/ah Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada yang bertempat di Masjid Al-Musannif Ulul Ilmi UIN Syahada. Kegiatan ini disampaikan oleh Ketua DWP UIN Syahada Padangsidimpuan, Ibu Dr. Juni Wati Sri Rizki Sitompul, S. Sos., M.A atau yang biasa dipanggil bunda JWS Riski Sumper Mulia, serta dihadiri oleh Mudiroh Ma’had Al-Jami’ah, para muwajjih/ah, musyrif/ah, dan seluruh mahasantri/ah.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya memperkuat pemahaman mahasantri/ah terhadap paradigma teoantropoekosentris yang menjadi landasan keilmuan di UIN Syahada Padangsidimpuan. Paradigma ini menekankan pentingnya keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan alam. Melalui kegiatan ini diharapkan mahasantri/ah tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial serta kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini dibuka secara resmi langsung oleh Ustadzah Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M. Sy. selaku Mudiroh Ma’had Al-Jami’ah

Mudiroh Ma’had Al-Jami’ah membuka secara resmi kegiatan pembinaan dan penguatan nilai teoantropoekosentris pada mahasantri/ah

Selain menjadi sarana pembinaan karakter dan wawasan keilmuan, kegiatan ini juga menjadi media pengisian waktu dengan aktivitas yang edukatif, reflektif, dan bermanfaat. Dengan demikian, mahasantri/ah diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan serta sadar akan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah SWT. Sebab pada hakikatnya manusia diciptakan untuk beribadah dan mengabdikan diri kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Az-Zariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Dalam penyampaian materinya, narasumber terlebih dahulu menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan penguatan pemahaman, yang berarti materi tentang teoantropoekosentris sebelumnya telah pernah diterima oleh mahasantri/ah.

Narasumber kemudian menjelaskan bahwa teoantropoekosentris merupakan paradigma yang memadukan nilai ketuhanan (teo), kemanusiaan (antropos), dan lingkungan atau ekologi (eko) secara seimbang. Dalam paradigma ini, manusia tidak hanya dituntut memiliki hubungan yang baik dengan Allah SWT dan sesama manusia, tetapi juga bertanggung jawab menjaga serta merawat alam sebagai amanah dari Allah SWT.

Penjelasan materi banyak diarahkan pada pentingnya kesadaran ekologis di kalangan mahasiswa. Narasumber menyampaikan bahwa berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari kurangnya rasa tanggung jawab manusia terhadap alam. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai generasi intelektual diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi perilaku merusak alam, serta membangun kebiasaan hidup yang lebih peduli terhadap keberlangsungan lingkungan sekitar.

Narasumber menyampaikan materi dengan sangat bersemangat

Selain itu, narasumber juga menekankan bahwa mahasiswa yang memahami paradigma teoantropoekosentris seharusnya mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman, memiliki kepedulian sosial, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan tempat ia berada. Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, tanggung jawab, dan kesadaran untuk menjaga bumi sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Kegiatan berlangsung dengan penuh antusiasme. Setelah penyampaian materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab agar suasana pembinaan menjadi lebih hidup dan interaktif. Banyak mahasantri/ah yang ingin mengajukan pertanyaan, namun karena keterbatasan waktu hanya lima pertanyaan yang dapat diterima dan dibahas langsung oleh narasumber.

Salah satu pertanyaan yang cukup menarik dan relevan dengan kondisi negeri saat ini adalah mengenai pandangan teoantropoekosentris terhadap eksploitasi hutan demi kemajuan ekonomi, sementara di sisi lain tindakan tersebut merusak keseimbangan alam dan lingkungan hidup.

Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber menjelaskan bahwa eksploitasi hutan yang merusak keseimbangan alam tidak dapat dibenarkan meskipun dengan alasan kemajuan ekonomi. Dalam pandangan teoantropoekosentris, manusia memang diberi hak untuk memanfaatkan alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab sebagai khalifah untuk menjaga dan merawatnya. Alam merupakan amanah dari Allah SWT, bukan sekadar objek untuk dieksploitasi demi keuntungan sesaat.

Islam melarang segala bentuk kerusakan di muka bumi karena dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri. Penebangan hutan secara berlebihan dapat menyebabkan banjir, longsor, rusaknya ekosistem, serta hilangnya sumber kehidupan masyarakat. Keuntungan ekonomi mungkin hanya dirasakan dalam waktu singkat, sedangkan kerusakan lingkungan dapat berlangsung jauh lebih lama dan merugikan banyak generasi.

Secara logis, kemajuan ekonomi yang menghancurkan alam bukanlah kemajuan yang utuh. Pembangunan yang benar seharusnya menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia, kelestarian lingkungan, dan tanggung jawab kepada Allah SWT. Karena itu, dalam sudut pandang teoantropoekosentris, ekonomi boleh berkembang, tetapi tidak dengan cara merusak keseimbangan alam.

Salah satu pernyataan narasumber yang sangat berkesan menurut penulis adalah “Tidak boleh mengambil keuntungan sedangkan di sisi lain kita mendzalimi yang lain. Keberkahan akan datang ketika semua sadar akan tanggung jawab masing-masing.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-A‘raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A‘raf: 96)

Paradigma teoantropoekosentris apabila diimplementasikan dengan benar dapat mencerminkan sikap orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebab paradigma ini mengajarkan manusia untuk memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT, sesama manusia, dan alam lingkungan secara seimbang. Ketika seseorang memahami hakikat hidup sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT, maka seluruh aktivitas dan hubungannya akan dilandasi oleh nilai ibadah dan tanggung jawab. Apabila nilai-nilai tersebut diterapkan bersama-sama, termasuk dalam lingkungan kampus, maka keberkahan sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an akan hadir dalam kehidupan bersama.

Melalui kegiatan ini diharapkan seluruh mahasantri/ah mampu memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai teoantropoekosentris dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan kepada Allah SWT, hubungan sosial dengan sesama manusia, maupun dalam menjaga lingkungan sekitar. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekologis, rasa tanggung jawab, serta kepedulian mahasantri/ah terhadap berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di tengah masyarakat.

– Galeri Foto Kegiatan –