Bukan Sekadar Pembukaan, Musyrif/ah Tampil Jadi Teladan dalam Muhadharah Perdana di Lingkungan Ma’had
Padangsidimpuan, 5 September 2026 — Sebelum diminta tampil, seseorang perlu diberi gambaran tentang bagaimana cara tampil yang baik. Prinsip inilah yang diterapkan Ma’had Al-Jami’ah UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan dalam membuka kegiatan Public Speaking (Muhadharah), Jumat (4/9/2026) malam.
Berbeda dari pelaksanaan Muhadharah pada pekan-pekan berikutnya, seluruh rangkaian Muhadharah perdana diisi langsung oleh Musyrif dan Musyrifah. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai pengisi acara, tetapi sekaligus menjadi contoh dan gambaran bagi mahasantri dan mahasantriah mengenai pelaksanaan Muhadharah yang nantinya akan mereka jalankan secara rutin.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di masing-masing zona pembinaan, yakni Zona Asrama A, Zona Asrama B dan C, Zona Asrama D, Zona Asrama E, serta Zona Asrama Putra, dengan dihadiri oleh Muwajjih dan Muwajjihah masing-masing zona. Seluruh mahasantri dan mahasantriah mengikuti kegiatan tersebut sebagai peserta sekaligus menyaksikan secara langsung bagaimana setiap rangkaian Muhadharah dilaksanakan.
Sejak awal kegiatan, para Musyrif dan Musyrifah memperlihatkan berbagai bentuk penampilan yang nantinya dapat menjadi referensi bagi mahasantri dan mahasantriah. Acara dibuka oleh MC dengan menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur’an dan doa.
Rangkaian berikutnya diisi dengan pidato dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Tidak berhenti pada kemampuan berpidato, kreativitas juga ditampilkan melalui sejumlah penampilan selingan, seperti puisi berantai, Syarhil Qur’an, orasi, tari daerah, dan berbagai penampilan kreatif lainnya.
Dengan format tersebut, Muhadharah perdana menjadi semacam panggung percontohan bagi mahasantri dan mahasantriah. Mereka tidak hanya mengetahui bahwa Muhadharah merupakan bagian dari program pembinaan, tetapi juga memperoleh gambaran konkret mengenai bentuk kegiatan, tata pelaksanaan, variasi penampilan, hingga keberanian yang diperlukan ketika tampil di hadapan publik.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, Muwajjih dan Muwajjihah masing-masing zona memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Muhadharah.
Musyrif/ah Memberi Contoh Sebelum Mahasantri/ah Tampil
Mudirah Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada Padangsidimpuan, Ustadzah Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M. Sy., menjelaskan bahwa Muhadharah perdana menjadi langkah awal dalam membangun keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi mahasantri dan mahasantriah.
“Muhadharah perdana ini merupakan langkah awal yang sangat baik dalam membangun keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi mahasantri dan mahasantriah. Kami ingin agar kegiatan ini tidak hanya dipandang sebagai kegiatan untuk tampil di depan, tetapi menjadi bagian dari proses pembinaan yang membentuk karakter, kreativitas, dan kemampuan mereka dalam menyampaikan gagasan secara baik dan santun,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan Musyrif dan Musyrifah sebagai pengisi Muhadharah perdana dilakukan agar mahasantri dan mahasantriah terlebih dahulu memperoleh contoh nyata sebelum mereka mengisi kegiatan tersebut pada pekan-pekan selanjutnya.
“Melalui muhadharah, kami berharap mahasantri dan mahasantriah terbiasa untuk berbicara di hadapan orang lain, mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan pesan-pesan yang positif dan bermanfaat,” lanjutnya.
Ia menambahkan, kemampuan berbicara di depan publik merupakan keterampilan yang perlu dibangun melalui proses pembiasaan. Karena itu, pelaksanaan Muhadharah secara rutin diharapkan dapat menjadi wadah yang konsisten dalam membentuk mahasantri dan mahasantriah yang percaya diri, kreatif, komunikatif, serta memiliki karakter yang baik.
Belajar Tampil dengan Melihat dan Mencoba
Salah satu Muwajjih Asrama Putra Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada Padangsidimpuan, Ustadz Dr. Irsal Amin, M.Pd.I., menilai Muhadharah memiliki peran penting dalam melatih kemampuan public speaking sekaligus mengembangkan kreativitas mahasantri.

“Muhadharah sangat penting sebagai wadah untuk melatih kemampuan public speaking sekaligus mengembangkan kreativitas mahasantri. Kemampuan untuk tampil dan berbicara di depan umum tidak lahir secara instan, tetapi dimulai dari pembiasaan melalui kegiatan-kegiatan seperti ini,” jelasnya.
Menurutnya, apa yang diperagakan oleh Musyrif dan Musyrifah pada Muhadharah perdana dapat menjadi gambaran awal bagi mahasantri mengenai bagaimana mereka nantinya tampil dan mengambil peran dalam kegiatan tersebut.
“Keberanian untuk tampil di depan publik perlu dibangun dan dilatih sejak sekarang. Ketika seseorang sudah terbiasa tampil, berbicara, dan menyampaikan gagasan di hadapan orang lain, maka akan lebih mudah baginya untuk berkomunikasi dan beradaptasi ketika nantinya terjun ke tengah-tengah masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu Muwajjihah Asrama Putri Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada Padangsidimpuan, Ustadzah Masdingin Harahap, M.Pd., menegaskan bahwa Muhadharah bukan sekadar kegiatan untuk tampil di depan teman-teman, tetapi merupakan bagian dari pembinaan kepribadian.

“Muhadharah bukan hanya sekadar kegiatan untuk tampil di depan teman-teman, tetapi juga menjadi salah satu bentuk pembinaan kepribadian. Melalui muhadharah, kita dilatih untuk berani berbicara, berani tampil, dan berani menyampaikan apa yang kita miliki,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa rasa malu, takut salah, maupun kurang percaya diri merupakan hal yang wajar ketika seseorang mulai belajar tampil. Namun, melalui latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara rutin, rasa percaya diri tersebut dapat terus berkembang.
“Dengan mengikuti muhadharah secara rutin, kita belajar untuk membangun kepercayaan diri, berani mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan. Sebab, keberanian untuk tampil merupakan bagian dari proses belajar,” ungkapnya.
Jumat Berikutnya, Panggung Beralih kepada Mahasantri/ah
Muhadharah perdana yang diisi oleh Musyrif dan Musyrifah sekaligus menjadi penanda dimulainya program Muhadharah rutin setiap Jumat malam di Ma’had Al-Jami’ah UIN Syahada Padangsidimpuan.
Jika pada pelaksanaan perdana Musyrif dan Musyrifah mengambil peran sebagai pengisi untuk memberikan contoh dan gambaran pelaksanaan, maka mulai Jumat berikutnya hingga berakhirnya masa pembinaan, panggung Muhadharah akan diisi oleh seluruh mahasantri dan mahasantriah.
Dengan demikian, mahasantri dan mahasantriah tidak hanya menjadi penonton, tetapi secara bertahap akan mengambil peran sebagai MC, pembaca Al-Qur’an, penyampai pidato dalam berbagai bahasa, hingga menampilkan kreativitas melalui berbagai bentuk pertunjukan.
Pola tersebut diharapkan mampu menciptakan proses pembinaan yang bertahap: melihat, memahami, mencoba, kemudian terbiasa. Musyrif dan Musyrifah terlebih dahulu memberikan contoh, kemudian mahasantri dan mahasantriah diberi ruang untuk mempraktikkannya secara langsung.
Lebih dari sekadar melatih kemampuan berbicara, Muhadharah juga menjadi ruang untuk menumbuhkan keberanian, kreativitas, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta keterampilan menyampaikan pesan-pesan edukatif dan keislaman.
Pada akhirnya, panggung Muhadharah diharapkan mampu melahirkan mahasantri dan mahasantriah yang tidak hanya berani berbicara di hadapan orang lain, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan dengan baik, santun, percaya diri, dan bertanggung jawab.
Sebab, di Ma’had Al-Jami’ah, keberanian untuk tampil bukanlah tujuan akhir. Ia merupakan langkah awal untuk mempersiapkan generasi yang kelak mampu berkomunikasi, berkontribusi, dan mengambil peran di tengah masyarakat.









