Menempa Diri di Ma’had : Belajar Mengelola Waktu, Menata Diri, dan Menjadi Manusia yang Utuh

Bismillahirrahmanirrahim.

Selamat datang di Ma’had Al-Jami’ah UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan. Selamat datang kepada seluruh mahasantri dan mahasantriah baru Tahun Akademik 2026/2027 yang telah menjadi bagian dari keluarga besar Ma’had Al-Jami’ah. Kalian datang dari berbagai daerah, membawa latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman, kebiasaan, dan karakter yang beragam. Ada yang mungkin sudah terbiasa dengan kehidupan pesantren dan asrama, ada pula yang untuk pertama kalinya harus tinggal jauh dari keluarga dan menyesuaikan diri dengan kehidupan bersama. Ada yang sudah memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, ada yang masih perlu banyak belajar; ada yang percaya diri berbahasa Arab atau Inggris, ada pula yang masih merasa asing dengan keduanya. Semua perbedaan itu adalah bagian dari perjalanan. Kalian tidak datang ke Ma’had karena sudah sempurna. Kalian datang ke Ma’had untuk belajar, bertumbuh, dan menempa diri.

Saya ingin sejak awal mengajak kalian mengubah cara pandang terhadap Ma’had. Jangan melihat Ma’had hanya sebagai tempat tinggal selama satu tahun sebelum kembali menjalani kehidupan perkuliahan secara penuh di fakultas. Jangan pula melihat pembinaan, aturan, jadwal, dan berbagai kegiatan sebagai beban tambahan yang harus dilewati. Ma’had adalah bagian dari proses pendidikan kalian di UIN Syahada. Satu tahun memang terasa singkat, tetapi satu tahun yang dijalani dengan sungguh-sungguh dapat menjadi masa yang sangat berarti dalam membentuk kebiasaan, kedisiplinan, karakter, kemampuan berkomunikasi, kedewasaan, dan cara kalian memandang kehidupan. Apa yang kalian biasakan selama satu tahun ini sangat mungkin menjadi bekal yang kalian bawa jauh setelah meninggalkan Ma’had.

Memahami Teoantropoekosentris dengan Cara yang Sederhana

UIN Syahada memiliki paradigma keilmuan teoantropoekosentris. Bagi sebagian mahasantri dan mahasantriah baru, istilah ini mungkin terdengar panjang dan akademik. Namun, jangan merasa harus memahami istilah itu sebagai sesuatu yang rumit. Pada dasarnya, paradigma teoantropoekosentris mengajarkan kepada kita untuk membangun keseimbangan dalam tiga hubungan penting dalam kehidupan: hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam serta lingkungan.

Dimensi teo mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki hubungan dengan Allah SWT dan bahwa ilmu serta seluruh aktivitas kehidupan harus memiliki orientasi ketuhanan. Dimensi antropo mengingatkan kita bahwa manusia tidak hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain dan memiliki tanggung jawab untuk menghormati, menghargai, membantu, serta memberikan manfaat kepada sesama. Sementara dimensi eko mengingatkan kita bahwa manusia hidup bersama alam dan lingkungan. Alam bukan sekadar sesuatu yang dapat digunakan sesuka hati, tetapi amanah yang harus dijaga dan dipelihara.

Karena itu, teoantropoekosentris sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kalian di Ma’had. Ketika kalian menjaga salat, membaca Al-Qur’an, belajar dengan niat yang baik, menjaga kejujuran, dan berusaha memperbaiki akhlak, kalian sedang membangun dimensi teo. Ketika kalian menghormati musyrif dan musyrifah, menyayangi teman, mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, meminta maaf ketika salah, dan membantu orang lain yang sedang kesulitan, kalian sedang menghidupkan dimensi antropo. Ketika kalian menjaga kebersihan kamar, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air dan listrik, merawat tanaman, serta menjaga fasilitas bersama, kalian sedang menjalankan dimensi eko.

Jadi, jangan membayangkan teoantropoekosentris hanya sebagai istilah yang harus dihafalkan. Ia harus menjadi cara kita menjalani kehidupan. Paradigma yang baik bukan hanya dipahami oleh pikiran, tetapi dihayati oleh hati dan terlihat dalam perilaku.

Tiga Kurikulum, Satu Tujuan

Mahasantri dan mahasantriah yang saya banggakan, ada satu hal penting yang perlu kalian pahami sejak awal. Selama satu tahun pembinaan di Ma’had, kalian akan menjalani tiga kurikulum secara bersamaan. Pertama, kurikulum fakultas, yang mengantarkan kalian memasuki dunia akademik sesuai program studi masing-masing. Kedua, kurikulum Ma’had, yang memberikan pembinaan keagamaan, karakter, kedisiplinan, kehidupan bersama, serta berbagai kompetensi yang menjadi bagian dari pembinaan kemahasantrian. Ketiga, kurikulum bahasa Arab dan bahasa Inggris di Pusat Bahasa, yang dipersiapkan untuk memperkuat kemampuan komunikasi dan membuka akses kalian terhadap sumber-sumber ilmu yang lebih luas.

Sekilas, tiga kurikulum tersebut mungkin terlihat seperti tiga tanggung jawab yang harus kalian pikul sekaligus. Namun, sesungguhnya ketiganya memiliki tujuan yang saling melengkapi. Kurikulum fakultas membangun kompetensi keilmuan sesuai bidang kalian. Kurikulum Ma’had membangun fondasi spiritual, karakter, kedisiplinan, dan kehidupan sosial. Sementara pembelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris memperkuat kemampuan komunikasi serta akses terhadap khazanah ilmu, baik keislaman maupun ilmu pengetahuan secara lebih luas. Kalian tidak sedang menjalani tiga pendidikan yang saling bersaing. Kalian sedang menjalani satu proses pendidikan melalui tiga jalur yang saling menguatkan.

Memang, pada awalnya ritme kehidupan seperti ini mungkin terasa padat. Ada kuliah, tugas, pembelajaran bahasa, kegiatan Ma’had, ibadah, kajian, kegiatan bersama, belajar mandiri, dan tentu saja waktu istirahat. Tetapi justru di sinilah salah satu pelajaran penting yang ingin dibangun: kalian harus belajar mengelola diri.

Manajemen Waktu Bukan Pilihan, tetapi Kebutuhan

Salah satu kemampuan yang harus mulai kalian bangun sejak hari pertama adalah manajemen waktu. Jangan menunggu sampai tugas menumpuk. Jangan menunggu sampai jadwal padat baru belajar membuat prioritas. Jangan menunggu ditegur baru belajar disiplin. Kehidupan di Ma’had akan mengajarkan kalian bahwa setiap orang memiliki waktu yang sama dalam sehari, tetapi hasil yang diperoleh setiap orang dapat berbeda karena cara mereka mengelolanya berbeda.

Mulailah membiasakan diri membuat agenda. Ketahui kegiatan kalian hari ini, esok, dan beberapa hari ke depan. Catat tugas kuliah. Catat jadwal pembelajaran bahasa. Perhatikan kegiatan Ma’had. Sisihkan waktu untuk membaca, mengulang pelajaran, beribadah, berolahraga, beristirahat, dan berkomunikasi dengan keluarga. Belajarlah menentukan mana yang penting dan mendesak, mana yang dapat ditunda, dan mana yang sebenarnya tidak perlu menghabiskan banyak waktu.

Hindari kebiasaan menunda. Kalimat “nanti saja” sering kali menjadi awal dari menumpuknya pekerjaan. Tugas yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam satu jam menjadi beban karena ditunda selama berhari-hari. Membaca sepuluh halaman yang sebenarnya ringan menjadi terasa berat karena menunggu sampai malam sebelum ujian. Begitu pula dengan hafalan bahasa; sedikit tetapi rutin akan jauh lebih baik daripada banyak tetapi hanya sesekali.

Disiplin bukan berarti hidup tanpa waktu santai. Disiplin berarti tahu kapan harus belajar, kapan harus beribadah, kapan harus beristirahat, dan kapan harus bersosialisasi. Orang yang mampu mengatur waktu bukan orang yang tidak pernah santai, tetapi orang yang tidak membiarkan kesenangan mengambil seluruh waktunya.

Jangan Takut dengan Kesibukan

Mungkin pada beberapa minggu pertama kalian akan merasa, “Mengapa jadwal saya begitu banyak?” Perasaan seperti itu sangat wajar. Kalian sedang memasuki pola kehidupan baru. Tubuh dan pikiran sedang belajar menyesuaikan diri. Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kalian tidak mampu.

Kesibukan bukan selalu musuh. Kesibukan yang dikelola dengan baik justru dapat membentuk seseorang menjadi lebih kuat. Kalian akan belajar bergerak tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan, menjaga komitmen, dan bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri. Kalian akan belajar bahwa kehidupan tidak selalu memberikan ruang bagi kita untuk melakukan sesuatu hanya ketika kita sedang ingin melakukannya.

Ada saatnya kalian harus belajar meskipun sedang lelah. Ada saatnya kalian harus menyelesaikan tugas meskipun ingin beristirahat. Ada saatnya kalian harus bangun ketika tubuh masih ingin tidur. Di situlah karakter dibentuk. Karakter tidak tumbuh dari kenyamanan semata. Karakter tumbuh ketika seseorang belajar melakukan apa yang harus dilakukan, meskipun tidak selalu mudah.

Namun, saya juga ingin mengingatkan: jangan mengartikan disiplin sebagai memaksakan diri tanpa batas. Jagalah kesehatan. Atur waktu tidur. Gunakan waktu istirahat dengan baik. Jangan menumpuk kegiatan tanpa perencanaan. Belajar mengelola waktu berarti juga belajar memahami batas kemampuan diri.

Jangan Mengorbankan Satu untuk Mengejar yang Lain

Tiga kurikulum yang kalian jalani harus ditempatkan secara proporsional. Jangan karena mengejar tugas fakultas lalu pembinaan Ma’had diabaikan. Jangan karena mengikuti kegiatan Ma’had kemudian tugas akademik terlupakan. Jangan pula karena ingin menguasai bahasa, kalian mengorbankan waktu tidur dan kesehatan secara terus-menerus.

Kalian perlu belajar menemukan keseimbangan. Keseimbangan tidak berarti semua hal mendapatkan waktu yang sama, tetapi setiap hal mendapatkan perhatian yang sesuai dengan kebutuhannya. Inilah salah satu bentuk kedewasaan yang perlu kalian bangun.

Jika ada tugas besar dari fakultas, rencanakan lebih awal. Jika ada ujian bahasa, jangan belajar sehari sebelumnya. Jika ada kegiatan Ma’had, persiapkan diri. Jika ada waktu kosong, jangan selalu mengisinya dengan media sosial. Gunakan sebagian waktu untuk membaca, mengulang pelajaran, menghafal kosakata, berdiskusi, atau sekadar beristirahat dengan tenang.

Pada akhirnya, kalian akan menyadari bahwa kemampuan mengatur waktu bukan hanya berguna selama tinggal di Ma’had. Keterampilan ini akan kalian bawa ke ruang kuliah, organisasi, dunia kerja, kehidupan keluarga, dan masyarakat. Orang yang mampu mengelola waktu pada dasarnya sedang belajar mengelola kehidupannya.

Belajar Hidup Bersama

Ma’had bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat belajar hidup bersama. Kalian akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Jangan berharap semua orang akan memiliki kebiasaan yang sama dengan kalian. Jangan berharap semua teman akan berpikir seperti kalian. Justru perbedaan itulah yang akan mengajarkan kalian tentang kesabaran, komunikasi, toleransi, dan kedewasaan.

Mungkin kalian akan menemukan teman yang sangat mudah diajak bekerja sama. Tetapi mungkin juga kalian akan bertemu dengan teman yang memiliki kebiasaan yang berbeda dan membutuhkan waktu untuk dipahami. Jangan cepat memberi label. Jangan mudah menyimpulkan. Belajarlah berbicara secara langsung dan baik ketika ada persoalan. Hindari memperbesar masalah melalui percakapan yang tidak perlu, terutama di media sosial atau grup percakapan.

Belajarlah meminta maaf. Belajarlah memaafkan. Belajarlah menerima kritik. Belajarlah menyampaikan kritik tanpa merendahkan. Belajarlah menjadi teman yang dapat dipercaya. Karena kelak ketika kalian masuk ke dunia masyarakat dan dunia kerja, kalian akan menemukan jauh lebih banyak manusia dengan karakter yang beragam.

Inilah dimensi antropo yang harus tumbuh dalam diri seorang mahasantri. Menjadi manusia yang baik bukan hanya pandai berbicara tentang nilai kemanusiaan, tetapi mampu memperlakukan orang lain dengan hormat dan bermartabat.

Jadilah Orang yang Bertanggung Jawab terhadap Lingkungan

Ada satu kebiasaan sederhana yang saya harapkan tumbuh kuat di Ma’had: jangan menunggu orang lain melakukan apa yang sebenarnya dapat kita lakukan sendiri.

Jika melihat sampah, ambil dan buang pada tempatnya. Jika selesai menggunakan ruangan, rapikan. Jika menggunakan air, gunakan secukupnya. Jika menggunakan listrik, matikan ketika tidak diperlukan. Jika menggunakan fasilitas bersama, rawat dengan baik. Jika melihat sesuatu yang rusak, laporkan. Jangan merasa bahwa karena fasilitas itu milik lembaga, maka kita bebas menggunakannya tanpa tanggung jawab.

Kebiasaan menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan kebersihan. Ia berkaitan dengan karakter dan tanggung jawab. Kita menggunakan sesuatu hari ini, tetapi orang lain akan menggunakannya setelah kita. Kita menikmati lingkungan yang bersih hari ini, tetapi generasi berikutnya juga berhak mendapatkan lingkungan yang baik.

Inilah dimensi eko dalam teoantropoekosentris. Alam dan lingkungan adalah bagian dari amanah kehidupan. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi bagian dari budaya Ma’had, bukan sekadar kegiatan ketika ada program kebersihan.

Jangan Takut Ditegur

Selama berada di Ma’had, kalian akan menemukan aturan dan pembinaan. Ada aturan tentang waktu, ibadah, pembelajaran, kebersihan, pakaian, interaksi, penggunaan fasilitas, dan kehidupan bersama. Jangan memandang aturan semata-mata sebagai pembatas kebebasan. Aturan dibuat agar kehidupan bersama dapat berjalan tertib dan proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik.

Tentu, kalian mungkin pernah atau akan melakukan kesalahan. Ketika itu terjadi, mungkin kalian akan mendapatkan teguran. Saya ingin kalian belajar menerima teguran dengan kedewasaan. Teguran tidak selalu berarti kebencian. Dalam pendidikan, teguran sering kali justru merupakan bentuk perhatian.

Yang lebih penting adalah jangan hanya menjadi orang yang tertib ketika diawasi. Jadilah orang yang tertib karena sadar. Jangan menjaga kebersihan hanya ketika ada pemeriksaan. Jangan datang tepat waktu hanya karena takut dicatat terlambat. Jangan belajar hanya karena ada ujian. Jangan beribadah hanya karena ada aturan.

Kita ingin membangun kesadaran dari dalam, bukan sekadar kepatuhan dari luar.

Jangan Bandingkan Perjalananmu dengan Orang Lain

Kalian akan menemukan teman yang lebih cepat memahami pelajaran. Ada yang lebih lancar membaca Al-Qur’an. Ada yang cepat menguasai bahasa Arab. Ada yang memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik. Ada yang mudah bergaul. Ada yang memiliki prestasi tertentu.

Jangan jadikan kemampuan orang lain sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri.

Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda. Yang penting adalah apakah kalian terus bergerak dari titik awal tersebut. Jika hari ini bacaan Al-Qur’an kalian belum lancar, berlatihlah. Jika kosakata bahasa kalian masih sedikit, tambah sedikit demi sedikit. Jika kalian belum mampu mengatur waktu, mulai membuat jadwal. Jika kalian mudah menyerah, latih diri untuk menyelesaikan satu pekerjaan sampai tuntas.

Jangan bandingkan bab pertama perjalananmu dengan bab kesepuluh perjalanan orang lain.

Yang perlu kalian bandingkan adalah diri kalian hari ini dengan diri kalian kemarin.

Apakah hari ini kalian lebih disiplin?

Apakah hari ini kalian lebih rajin?

Apakah hari ini kalian lebih sabar?

Apakah hari ini kalian lebih baik dalam mengelola waktu?

Apakah hari ini kalian lebih dekat kepada Allah?

Kalau jawabannya iya, meskipun perubahan itu kecil, berarti kalian sedang tumbuh.

Jangan Takut Salah, tetapi Jangan Betah dalam Kesalahan

Kalian akan melakukan kesalahan selama berada di Ma’had. Itu manusiawi. Tidak ada seorang pun yang menjalani proses pendidikan tanpa pernah salah. Yang perlu dihindari bukan sekadar kesalahan, tetapi ketidakmauan untuk memperbaiki kesalahan.

Kalau salah, akui.

Kalau belum tahu, bertanya.

Kalau belum mampu, berlatih.

Kalau gagal, evaluasi.

Kalau ditegur, dengarkan.

Kalau jatuh, bangkit kembali.

Jangan menghabiskan terlalu banyak energi untuk menyembunyikan kesalahan. Gunakan energi itu untuk memperbaikinya. Ma’had adalah tempat belajar. Maka jadikan setiap kesalahan sebagai bahan evaluasi dan setiap teguran sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Satu Tahun, Jangan Disia-siakan

Mahasantri dan mahasantriah Tahun Akademik 2026/2027,

Kelak satu tahun ini akan selesai. Kalian akan kembali lebih intens ke fakultas, mengikuti perkuliahan, berorganisasi, dan menjalani berbagai pengalaman lain sebagai mahasiswa. Pada saat itu, mungkin kalian akan merindukan beberapa hal yang hari ini terasa biasa saja: teman sekamar, jadwal bersama, kegiatan pembinaan, suasana belajar, bahkan teguran para pembina.

Karena itu, jangan hanya menghitung hari sampai masa pembinaan berakhir. Hitunglah perubahan yang terjadi dalam diri kalian.

Ketika satu tahun selesai, saya berharap kalian dapat mengatakan: “Saya sekarang lebih baik daripada ketika saya pertama kali datang.”

Bacaan Al-Qur’an lebih baik.

Bahasa Arab lebih kuat.

Bahasa Inggris lebih berkembang.

Ilmu bertambah.

Ibadah lebih tertib.

Akhlak lebih baik.

Disiplin lebih kuat.

Manajemen waktu lebih matang.

Kemampuan bekerja sama lebih baik.

Kepedulian terhadap lingkungan semakin tumbuh.

Kalau perubahan itu ada, maka satu tahun di Ma’had telah memberikan sesuatu yang sangat berharga.

Jadikan Ma’had sebagai Kawah Pembentukan Diri

Jangan takut dengan proses yang panjang. Jangan takut dengan jadwal yang padat. Jangan takut dengan tuntutan yang membuat kalian harus keluar dari kebiasaan lama. Justru melalui proses itulah kalian belajar menjadi pribadi yang lebih kuat.

Kalian mungkin datang ke Ma’had dengan kebiasaan yang berbeda. Pulanglah dengan kebiasaan yang lebih baik.

Kalian mungkin datang dengan kemampuan yang terbatas. Pulanglah dengan kemampuan yang bertambah.

Kalian mungkin datang sebagai pribadi yang belum terbiasa mengatur waktu. Pulanglah sebagai pribadi yang mampu menentukan prioritas.

Kalian mungkin datang dengan pemahaman yang belum utuh tentang hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan. Pulanglah dengan kesadaran yang lebih baik bahwa ketiganya merupakan bagian dari tanggung jawab kehidupan.

Inilah semangat teoantropoekosentris yang ingin kita hidupkan di Ma’had.

Bukan hanya dekat kepada Allah, tetapi juga baik kepada manusia.

Bukan hanya baik kepada manusia, tetapi juga peduli terhadap alam.

Bukan hanya berilmu, tetapi juga berakhlak.

Bukan hanya memiliki cita-cita besar, tetapi juga memiliki kedisiplinan untuk mencapainya.

Kalian Adalah Generasi UIN Syahada Masa Depan

Kalian adalah generasi yang akan menjadi bagian penting dari perjalanan UIN Syahada pada masa yang akan datang. Di tangan kalian kelak ada tanggung jawab untuk membawa nama almamater di tengah masyarakat.

Karena itu, saya berharap kalian tidak hanya mengejar nilai akademik. Kejar pula kualitas diri. Jangan hanya berusaha menjadi sarjana yang memiliki gelar. Berusahalah menjadi manusia terdidik yang memiliki ilmu, akhlak, kepedulian, dan tanggung jawab.

Dunia membutuhkan orang-orang yang memiliki kompetensi, tetapi dunia juga membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang pintar, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang jujur. Bangsa membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki kepedulian.

Jadilah bagian dari generasi itu.

Selamat Datang, Selamat Berproses

Anak-anakku, mahasantri dan mahasantriah baru Tahun Akademik 2026/2027,

Jalani satu tahun ini dengan hati yang terbuka. Jangan takut belajar. Jangan malu bertanya. Jangan mudah menyerah. Hormati pembina. Hargai teman. Patuhi aturan. Jaga nama baik Ma’had. Kelola waktu dengan baik. Manfaatkan setiap kesempatan belajar. Dan jangan lupa menjaga kesehatan.

Jika suatu hari kalian merasa lelah, ingat kembali mengapa kalian datang ke sini.

Kalian datang bukan sekadar untuk menyelesaikan kewajiban.

Kalian datang untuk mempersiapkan masa depan.

Kalian datang untuk menambah ilmu.

Kalian datang untuk memperbaiki diri.

Kalian datang untuk membangun kebiasaan.

Kalian datang untuk belajar hidup bersama.

Kalian datang untuk menempa karakter.

Dan pada akhirnya, kalian datang untuk menjadi manusia yang lebih utuh.

Maka jangan takut dengan padatnya kehidupan Ma’had. Belajarlah mengelolanya.

Jangan takut dengan banyaknya tanggung jawab. Belajarlah menentukan prioritas.

Jangan takut dengan kesulitan. Belajarlah menghadapinya.

Jangan takut dengan perbedaan. Belajarlah menghargainya.

Jangan takut dengan kesalahan. Belajarlah memperbaikinya.

Dan jangan takut dengan proses.

Karena proses itulah yang sedang membentuk kalian.

Semoga satu tahun di Ma’had menjadi satu tahun yang penuh makna. Semoga kalian keluar dari Ma’had bukan hanya dengan kemampuan akademik dan bahasa yang lebih baik, tetapi juga dengan hati yang lebih dekat kepada Allah, akhlak yang lebih baik, kemampuan sosial yang lebih matang, kedisiplinan yang lebih kuat, dan kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan.

Mari kita hidupkan paradigma teoantropoekosentris bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam kehidupan.

Dekat kepada Allah.
Muliakan manusia.
Rawat alam.
Kelola waktu.
Tekuni ilmu.
Bangun akhlak.
Dan jadilah manusia yang bermanfaat.

Selamat datang di Ma’had Al-Jami’ah.

Selamat menjadi bagian dari keluarga besar Ma’had.

Selamat belajar.

Selamat berproses.

Dan selamat menempa diri.

Kalian tidak harus menjadi sempurna pada hari ini. Tetapi pastikan, setiap hari kalian bergerak menuju versi diri yang lebih baik.

Wallahu al-Muwaffiq ila aqwamit-thariq.

Ustadzah Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy.
Mudirah Ma’had Al-Jami’ah
UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan